Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Wednesday, April 19, 2006

Matahari Odi bersinar karena Maghfi


Aku tertarik buku ini setelah membaca sebuah ceritanya di blog Taqin. jadi pas jalan-jalan di Islamic Book Fair kemarin langsung beli. Buku ini merupakan karya Neno Warisman yang kedua, setelah buku pertamanya yang bertajuk "Izinkan Aku Bertutur". Membaca buku ini benar-benar seperti mendengar cerita dari Mbak Neno ( betul kata M. Fauzil Adhim dalam pengantarnya.Empat jam menjelajahi halaman demi halaman buku "Matahari Odi bersinar karena Maghfi" serasa berada di rumah Mbak Neno. Sebenarnya buku ini berkisah tentang interaksi sang Bunda ( Neno warisman ) dan ketiga anaknya ( yang juga sebagai ilustrator isi buku bunda nya ) Giffari Zaka Waly ( Giff ), Maghfira Izzani Maulani ( Maghfi ) dan Raudyatuzzahra Ramadhani ( Odi ) , ada 24 judul berbeda di dalamnya dan isinya di kemas dalam tulisan seolah-olah si pembaca sedang penonton opera keluarga. Tempat kejadian "opera" itu pun bervariasi ada di ruang tamu, tempat tidur, bahkan dapur.

Saya akui buku ini memang buku pengasuhan anak yang menggetarkan. Ada banyak keteladanan dan hikmah yang ada didalamnya. Benar-benar salut dengan cara mendidik yang dipakai oleh mbak Neno. Cara berinteraksinya, bagaimana berdiskusi dengan anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah (yang kadang tidak pernah terlintas dalam benak kita) dan yang lebih hebat lagi bagaimana menghadirkan dan melibatkan Allah dalam setiap momen, melandasi aqidah anak sedari kecil dengan mengoptimalkan masa ”Golden Age”nya. Yang jelas membaca buku ini bisa bikin mupeng dan membuatku smakin sadar bahwa jadi ibu itu perlu ilmu. Kayaknya 2 buku selanjutnya wajib ditunggu nih (buku ini bagian dari trilogi)

Nah coba apa yang mereka bilang di pengantar buku ini
“Mbak Neno, selalu saja ada yang membuat saya harus menangis, berfikir dan menerawang tentang alangkah masih kurangnya saya belajar menjadi orangtua setiap kali saya baca tulisan2 Njenengan. Di buku ini saya merasakan setiap tulisan benar-benar berbicara, hidup dan menyentuh…”
( Mohammad Fauzil Adhim, penulis, kolumnis parenting Majalah hidayatullah )

“..buku karya Neno Warisman ini benar-benar cocok di baca oleh siapa saja yang ingin menghadirkan kegembiraan, ketakjuban dan cinta ! bahasanya mengalir indah, mengesankan dan materinya memuat sesuatu yang dapat melangitkan jiwa…”
( hernowo , penulis 23 buku )

‘ ..Kumpulan cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman langsung Neno dalam mendidik anak-anaknya ini memberikan masukan yang sangat berharga bagi para orangtua dan terasa sangat menyejukkan..” (Astri Ivo, ibu)

Saturday, March 04, 2006

Islamic Book Fair

Islamic Book Fair mulai dibuka hari ini. Event pameran buku Islam terbesar yang diselenggarakan oleh IKAPI ini merupakan event tahunan yang kelima. Selain Pameran buku ada juga acara bedah buku, festival nasyid, pemutaran film islam, dan temu tokoh internasional (Syekh Aidh al Qarni pengarang buku La Tahzan). Di book fair ini ada juga yang jual berbagai macam aksesoris, baju, kerudung dan pernak-pernik lain Aku sengaja datang di hari pertama dengan pertimbangan pengunjung masih sedikit jadi bisa leluasa menjelajahi satu per satu stand. Ada sebuah stand yang agak unik, di stand ini dijual sebuah buku dengan berbagai ukuran. Semakin kecil ukuran bukunya harganya semakin murah.Yang tak kalah menarik adalah semua stand menawarkan diskon yang menyenangkan.
Dua jam mengelilingi istora senayan rasanya belum puas. Di book fair ini aku beli beberapa buku dan CD:
1. The Choice - Ahmed Deedat
2. Matahari Odi Bersinar karena Maghfi - Neno Warisman
3. Area X - Eliza V. Handayani
4. Revolusi Integralisme Islam - Armahedi Mahzar
5. Wanita Teladan Istri-istri, putri & shahabat wanita Rosulullah - Mahmud Mahdi
6. Shofwatul bayan Juz'amma - Khalid Abdurrahman
7. Tuntunan Sholat Sunnah - Said bin Ali
8. 7 buah CD Harun Yahya

Begitulah Nia kalau ada di pameran buku... penginnya beli semua buku yang bagus. Kalau pas anggaran lagi agak longgar sih gapapa, kalau ga ya kebutuhan yang lain terpaksa dipending dulu. Sampai ibuku pernah bilang kalau aku ke ITC paling keluar cuma sedikit, tapi klo ke toko buku sudah ga dibendung lagi :)

Tuesday, July 19, 2005

Ketika Ibu Harus Memilih ( resensi )


Buku ini ditulis oleh Susan Chira, seorang wartawati senior di surat kabar New York Times, mengangkat kegelisahan penulis yang juga menjadi kegelisahan ibu-ibu bekerja tentang dilema seorang ibu yang mempunyai peran ganda antara bekerja di luar rumah dan ibu rumah tangga. Tentu saja buku ini ditulis dengan latar belakang kondisi sosial, kultural, ekonomi dan politik Amerika Serikat. Di belakang tulisan ini melatar sebuah perdebatan seru yang mengisi tahun-tahun akhir abad ke-20. Apakah pengibuan merupakan misi utama dan satu-satunya bagi perempuan, serta merupakan sumber kepuasan? Ataukah salah satu peran perempuan saja, serta merupakan salah satu dari sekian banyak sumber kepuasan? Apakah nasib perempuan terikat ke peran biologis reproduksi ataukah biologis itu merupakan faktor kecil saja

Di budaya patriarkhi ini terdapat sebuah pandangan tentang konsep ibu yang baik adalah ibu yang selalu ada di rumah, yang selalu ada setiap saat.Dan seorang ibu yang bekerja dianggap seorang ibu yang tidak bertanggung jawab, ibu yang mengabaikan anaknya. Doktrin ini didukung oleh teori Psikoanalis ajaran Freud yang menyatakan bahwa pengasuhan anak oleh beberapa orang selain ibunya bisa merusak ikatan batin antara dia dan ibunya, mendistorsikan kesadaran-diri si anak dan merusak kemampuan sang ibu untuk mengendalikan sifat agresif dan mengembangkan nurani. Dalam teori ini disebutkan kaum perempuan sebetulnya hanya akan puas jika mereka telah menjadi ibu. Setelah menjadi ibu, mereka akan mampu mengatasi sifat iri terhadap pria.

Selain teori Psikoanalis ada teori Kedekatan yang dipopulerkan oleh Bowbly. Teori ini menyatakan bahwa keberadaan seorang ibu adalah untuk menanggapi anak dengan penuh kepekaan dan membantu mengembangkan rasa kepercayaan. Bahwa seorang ibu seharusnya selalu berada didekat anaknya. Bila dilihat latar belakang lahirnya teori ini adalah pada pasca Perang Dunia II dimana pemerintah berusaha menyingkirkan kaum perempuan dari pabrik agar tinggal di rumah. Hal itu dilakukan untuk memberikan pekerjaan pada bekas serdadu yang pulang perang.

Kedua teori di atas telah dipatahkan oleh beberapa penelitian yang diantaranya dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1991 ketika 25 pakar dari National Institute of Child Health and Human Development Study of Early Child Care (NICHD) melakukan penelitian tentang pengasuhan anak dari lahir sampai umur 7 tahun. Penelitian ini menyatakan bahwa ibu bekerja tidak membahayakan hubungan dengan anak. Masalah utama dari ikatan batin antara ibu dan anak bukan apakah si ibu bekerja atau tidak,melainkan apakah dia peka atau tidak pada kebutuhan anaknya. Selain itu Dr. Donald Cohen dari Pusat Kajian Anak di Yale mengatakan bahwa adakalanya pertanyaan. "Berapa banyak waktu yang dibutuhkan anak" adalah pertanyaan yang salah. Seharusnya ditanyakan. "Berapa banyak waktu yang dibutuhkan ibu untuk tetap merasa nyaman bersama anaknya. Apakah si ibu merasa dia hadir dalam kehidupan anaknya, dan si anak menerimanya seakan si ibu selalu ada disisinya."

Walaupun sudah ada penelitian-penelitian yang mengungkapkan tidak ada korelasi antara ibu bekerja dengan ikatan batin antara ibu dan anak ataupun kualitas anak, tetapi ibu bekerja tetap menjadi kambing hitam jika terjadi apa-apa dengan anak. Kenakalan remaja, free sex, krimininalitas yang meningkat dituduh sebagai akibat dari ibu yang tidak bertanggung jawab (karena bekerja dan tidak mempunyai banyak waktu dengan anak). Bahkan di meja hijau pun ibu yang bekerja harus menanggung kekalahan dalam hak perwalian anak karena dianggap tidak layak untuk mengasuh dan mendidik anak.

Sebenarnya mengasuh dan mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu. Ada peran ayah yang seharusnya bermain juga di ranah itu. Bahwa apa yang terjadi pada anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu saja, tetapi menjadi tanggung jawab ayah juga. Ayah dan ibu saling mendukung dan melengkapi dalam membesarkan anak.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada sebuah puisi yang diciptakan oleh Ratih Sanggarwati, seorang bisnis woman.

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu.
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah.

Sembilan bulan nak,. engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata.

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah. saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku,.
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku.
Hidup memang pilihan.
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak.
Maafkan ibu.
Maafkan ibu.
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak.
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak.
Engkau akan selalu menjadi belahan nyawa ibu.


Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)
Jakarta, 21 Agustus 2004

Tuesday, June 21, 2005

Torey Hayden

Satu setengah bulan terakhir aku membaca 6 buah buku karangan Torey Hayden. Judul buku-buku tersebut: Shiela: Luka hati Seorang Gadis Kecil; Kevin: Belenggu Masa Lalu; Jadie: Tangis Tanpa Suara; Murid Istimewa: Jerit Lirih Seorang Sahabat; Mereka Bukan Anakku: Jalinan Kasih yang Tersisih; Venus: Duka Lara Si Anak Cantik. Ada sebuah rasa kekaguman ketika membaca buku-buku tersebut. Sebagian besar waktu yang beliau punya didedikasikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, terutama anak-anak penderita mutisme elective. Mutisme elective adalah keadaan dimana orang yang sebenarnya bisa berbicara tetapi tidak mau berbicara karena tekanan psikologis. Kelainan tersebut antara lain disebabkan oleh kekerasan pada anak (child abuse) dan trauma kekerasan seksual.

Sheila, Kevin, Jadie, Venus adalah anak berkebutuhan khusus yang beruntung karena mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Acara diskusi pagi yang memberikan orientasi kepada murid ketika masuk di pagi hari untuk menceritakan kejadian setelah sekolah hari sebelumnya, persiapan untuk masuk ke pelajaran, serta membangun solidaritas kelompok. Sedangkan diskusi sore untuk mempersiapkan murid kembali ke rumah.

Dari buku-buku tersebut kita juga bisa melihat bahwa system pendidikan di negeri paman sam itu mapan. Setiap warga Negara yang masih berusia wajib belajar diberikan haknya untuk mendapatkan pendidikan, walaupun anak-anak tersebut berkebutuhan khusus maupun bermasalah. Keadaan di Indonesia jauh dari keadaan pendidikan di sana. Di sini jangankan anak yang mempunyai kebutuhan khusus, anak normal pun banyak yang tidak mengenyam pendidikan karena mahalnya biaya yang harus dibayarkan.

Friday, June 17, 2005

5 Langkah Membaca Berkinerja Tinggi

Disadur dari buku "How to be twice as smart, karangan Scott Witt)
Jalani selangkah demi selangkah. Jangan mengambil langkah selanjutnya hingga kita telah merasa mahir dengan langkah yang sedang dipelajari.

1. Kembangkanlah ketrampilan berkonsentrasi

  • Hentikan kebiasaan membaca kata per kata. Kembangkanlah kebiasaan menggabungkan beberapa kata dan membacanya sebagai satu kesatuan.
  • Kembangkanlah kebiasaan menggabungkan beberapa kata dan membacanya sebagai satu kesatuan.
  • Usahakan pengalihan pandangan sejarang mungkin (dengan latihan kita akan memperbesar cakupan pandangan kita)

2. Usahakan Jadilah pembaca yang aktif

  • Sementara kita membaca, berkonsentrasilah menangkap pemikiran-pemikiran yang tertulis
  • Carilah ide-ide yang penting, deskriptif dan bermakna
    Jangan membaca ulang hal-hal yang telah dibaca

3. Jangan membaca ulang hal-hal yang telah dibaca

Kebanyakan orang dalam membaca dihabiskan untuk membaca ulang. Walaupun sulit menghilangkan kebiasaan yang tidak produktif tersebut, hasilnya sungguh tidak percuma. Gunakan secarik kertas kecil untuk menutupi kalimat yang telah kita baca

4. Bacalah menurut paragraf

  • Bacalah bagian pendahuluan, judul dan subjudulnya, indeksnya dan rambu-rambu lainnya untuk menangkap inti tulisannya
  • Pandang isinya sebagai serangkaian paragraf, dimana masing-masing paragraf mempunyai pesan sendiri
  • Apabila substansinya telah ditangkap, segera lanjutkan ke paragraf berikutnya

5. Perkuatkan apa yang telah kita baca

Segera mungkin setelah selesai membaca, gunakan teknik S.M.A.R.T untuk mengingatkan apa yang telah kita baca tertanam dalam ingatan kita

  • Subject (Subyek) : tentang apakah tulisan tersebut
  • Material (bahan bacaaan) : informasi penting apakah yang dikemukakan
  • Assertions (Pernyataan2) : opini-opini apa saja yang dikemukakan penulis
  • Reaction (reaksi) : bagaimana opini anda sendiri tentang tulisan tersebut
  • Trademark : sebutkan ciri-ciri khas tulisan tersebut