Thursday, November 30, 2006

Denpasar

Setelah tgl 24-26 November 2006 pergi ke Medan, giliran kota selanjutnya yang aku datangi dalam rangka perjalanan dinas adalah Denpasar. Aku sampai kost ahad malam jam 23.00 WIB dan harus berangkat ke bandara Soekarno Hatta lagi jam 05.30 tanggal 27 November 2006. Pulang dari Medan sempet dejavu bentar di kamar kost, bener ya aku harus pergi lagi besok pagi-pagi?. Setelah selesai mandi baru packing untuk dinas ke Denpasar.

Alarm HP bunyi jam 04.00 WIB, setelah mandi pagi dan sholat Subuh aku cek ulang bawaan untuk perjalanan dinas kali ini. Sarapan sekedarnya dengan bika ambon yang aku bawa dari Medan. Trus ke teras nunggu jemputan datang.

Lumayan juga harus flight pertama, harus ke bandara pagi-pagi padahal baru pulang dari dinas juga. Aku satu pesawat dengan Nuke, Bu Ina, Mas Ari, Mbak Fenny dan Mas Rony. Dari Bandara Ngurah Rai kami langsung menuju kantor di Denpasar. Kita cek perlengkapan komputer yang akan digunakan training besok pagi. Ternyata dari penyewaan siang itu belum lengkap seluruh komputernya.Akhirnya check ini ke hotel Ramada Bintang Bali dulu dan makan siang di Kuta Square. Kita bertiga (Mas Ari, Mas Rony dan aku) baru bisa mulai setting jaringan sore hari dan baru selesai jam 02.30 WITA. Dari planning A sampai D kita lakukan untuk persiapan training aplikasi ini. Karena ternyata jaringan untuk intranet yang tersedia cuma satu port, sedangkan kita menggunakan 30 PC untuk pelatihan itu.

Hari Selasa tanggal 28 November 2006 full dengan acara pelatihan di kantor, bantuin Mas Rony ngasih materi. Pelatihan di Denpasar ini diperuntukan bagi wakil pegawai yang ada di Indonesia timur dan beberapa dari kantor pusat. Untuk Indonesia bagian barat rencananya pelatihan akan diadakan di Padang.

Aku baru bisa jalan-jalan dan membeli beberapa oleh-oleh malam Rabu. Berenam,kami menyusuri Kuta square, membeli tas, kalung, dan sandal titipan beberapa teman. Dan oleh-oleh makanan untuk teman kantor dan kost.

Rabu pagi Aku, Nuke dan Mbak Feny menikmati pasir putih di pantai belakang hotel. Tidak cukup bagus sih pemandangannya, tapi lumayan untuk melepas kejenuhan setelah beberapa hari full dangan kerjaan. Jam 11.00 WITA harus check out dari hotel, Bali sepi banget hari ini karena sebagian besar masyarakatnya sedang merayakan hari raya Galungan. Sempat mampir ke Joger untuk beli kaos ternyata toko kaos khas Bali ini juga tutup.

DaNaU tObA

MEDAN

Jum'at tgl 24 November 2006 aku dinas ke Medan lagi.Ini kedua kalinya aku dinas ke Medan,ke Medan pertama kali saat sosialisasi Sistem Pelaporan Bank sedangkan kali ini dalam rangka review dan outing satu direktorat. Take off dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.00 WIB, lama penerbangan sekitar 2 jam. Hotel Tiara jadi tempat menginapku lagi, di hotel ini kita mengadakan rapat review Direktorat.

Setelah rapat selesai, sekitar pukul 23.00 WIB digelar acara pesta Duren. Sehabis makan Duren beberapa teman jalan-jalan ke Merdeka Walk dan putar-putar kota Medan dengan becak motor.

Sabtu pagi rombonganku meninggalkan hotel Tiara, kita melakukan city tour di Medan.Tempat yang didatangi adalah Istana Maimun dan Masjid Raya. Sehabis city tour perjalanan dilanjutkan menuju Parapat melalui Berastagi.

BERASTAGI
Bus yang mengantar kami transit di Berastagi sekitar satu jam. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas seperti terong Belanda, kaos dan baju Berastagi.Aku beli beberapa souvenir untuk adikku.

Asal nama Berastagi dari Beras ta agi yang artinya "beras kita mana dek". Alkisah ada sepasang suami istri yang akan berbulan madu ke gunung. Ketika melewati daerah itu sang suami menanyakan ke istrinya apakah dia sudah membawa beras.

AIR TERJUN SIPISO-PISO
Kita transit lagi di Air terjun Sipiso-piso untuk makan siang dan sholat. Pemandangannya bagus di satu sisi kita disuguhkan keindahan air terjun. Disisi yang lain pemandangan danau toba menyejukan hati.

PARAPAT
Akhirnya sampai ke Parapat jam 17.00 WIB, menginap di Hotel Niagara. Kita menikmati makan malam dengan iringan Uning-uningan dilanjutkan acara kebersamaan. Pagi harinya kita menuju Danau Toba.









DANAU TOBA

Menurut legenda orang Batak alkisah di Parapat hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Suatu hari Toba memancing di sungai dan memperoleh ikan yang besar. Ternyata ikan besar tersebut jelmaan dari seorang perempuan cantik. Akhirnya Toba menikah dengan perempuan jelmaan itu dengan satu syarat, Toba tidak boleh memaki anaknya dengan sebutan anak ikan. Tahun pun berlalu, Toba mempunyai anak yang bernama Samosir. Samosir ini anak yang tidak kuat menahan lapar.
Suatu hari Samosir disuruh ibunya untuk mengantarkan nasi ke ladang untuk bapaknya. Karena perjalanan yang cukup jauh Samosir merasa lapar dan memakan nasi bekal yang disediakan untuk bapaknya. Toba marah kepada anaknya dengan tidak sadar dia memaki anaknya dengan sebutan anak ikan. Samosir menangis dan mengadu kepada ibunya, kemudian oleh siibu Samosir dibawa ke puncak gunung. Disana dua anak beranak tersebut menangis sampai menggenangi dataran rendah disekitarnya.Akhirnya tempat Samosir tinggal di sebut pulau Samosir, sedangkan ibunya terjun ke danau Toba menjadi ikan lagi. Saat terjun rambutnya ada yang tersangkut, yang konon sekarang menjadi batu gantung.

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik sebesar 100km x 30km di Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Di tengahnya terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2800km3, dengan 800km3 batuan ignimbrit dan 2000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu.

Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar ribuan saja.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

PULAU SAMOSIR

Dari Parapat kita memakai fery menuju pulau yang ada ditengah-tengah danau Toba. Desa yang kita kunjungi bernama desa Tomok. Disana kita menikmati tarian Sigalegale dan melihat Kuburan Raja Sidabutar. Disini juga banyak oleh-oleh khas danau Toba. Dan bisa foto-foto juga.

Tuesday, November 21, 2006

Keracunan Ikan

Tadi pagi aku sarapan nasi kuning dengan ikan tongkol sebagai lauknya. Habis sarapan aku melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Sejam setelah makan aku merasakan sesuatu yang tidak beres dengan badanku. Kepalaku tiba-tiba pusing (padahal dari tadi pagi kondisiku fit).Wajahku panas dan pipi jadi memerah, malah sempet dikirain pakai blush on (padahal mana pernah aku ke kantor pakai blush on).Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke poliklinik kantor. Pas perjalanan menuju poliklinik aku ketemu mas Andre,dari bagian TI, wajahnya memerah juga. Akhirnya aku tanya apa dia abis makan ikan tongkol juga. Ternyata sama, dia sarapan ikan tongkol juga beli di tempat yang sama denganku. Deg.. jangan-jangan yang dikatakan bu Ina benar, aku keracunan makanan.

Kondisiku saat daftar di poliklinik sudah ga karuan, tambah pusing dan panas. Pas ditanya petugas pendaftaran mau periksa dengan dokter siapa, aku jawab siapa saja asal cepat. Mas Andre dan aku diperiksa dokter yang sama, dokter Arif, giliran mas Andre lebih dulu daripada aku. Pas aku masuk ruang praktek dokter Arif langsung nebak, habis makan ikan juga ya?. Dokter juga menanyakan aku ada alergi tidak? Dalam riwayat kesehatanku aku tidak punya alergi apapun. Karena sudah dua orang dengan gejala serupa maka dokter bilang kemungkinan ikan yang mengakibatkan kami keracunan. Tekanan darahku diperiksa, kalo kurang dari 100 maka harus diobservasi di poliklinik sehari plus diinfus. Alhamdulillah tekanan darahku 110/70 jadi tidak perlu diinfus.Dokter Arif ngasih obat 3 jenis, dan pesannya kalo nanti siang kondisiku tambah drop harus periksa lagi di poliklinik untuk mendapat perawatan yang lebih intensif.

Alhamdulillah setelah minum obat berangsur-angsur kondisiku membaik. Wajah sudah normal (tidak blushy lagi).Dan sudah bisa meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda tadi. Makasih dok, jangan bosen ya sudah 3 kali aku konsul ke dokter. Makasih Bu Ina sarannya untuk cepat-cepat ke poliklinik, ternyata teman Bu Ina punya pengalaman yang lebih buruk dari aku. Keracunan yang tidak dirasa malah berakibat parah. Pembuluh darah di matanya pecah sampai matanya berwarna merah. Akhirnya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Makasih mas Gina yang memberikan tips memilih ikan segar(kalo ikan segar sih aku masih bisa milih mas, nah kalo sudah berwujud makanan jadi kan ga kelihatan). Intinya dengan kejadian ini aku lebih hati-hati dalam memilih makanan.

Thursday, November 02, 2006

Kompensasi?

Seorang teman menanyakan kepadaku tentang keputusanku melanjutkan kuliah lagi. Dia tanyakan keputusan itu apakah sebuah kompensasi dari suatu agenda yang akhirnya tidak terjadi. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dalam fikiranku tidak terbersit hal itu. Malah aku baru ingat kalau keputusan kuliah bersamaan dengan agenda yang gagal.

Dalam fikiranku kuliah bukanlah satu pelarian. Kuliah adalah sebuah agenda untuk menepati janji pada diriku sendiri. Dan yang pasti kuliah sarana untuk mendobrak "comfort zone" yang kadang dirasakan oleh seorang pegawai seperti aku. Dan ini sudah aku rencanakan jauh-jauh hari dari sejak aku belum kerja. hanya saja tahun kemarin pending karena aku masih harus adaptasi dengan lingkungan kerja baru dan tempat tinggal yang baru.

Jadi, teman percayalah bahwa kuliah lagi bukan sebuah kompensasi. Dan do'akan saja temanmu ini terus mendapat pilihan yang terbaik. Amin..

Sunday, October 29, 2006

Lebaran Ini

Walaupun ada Idul Fitri yang berbeda taun ini, hanya sedikit mengurangi kehikmatan dalam menjalaninya. Aku dan keluarga sholat Ied di Lapangan Olahraga dekat rumah. Setelah sholat kumpul di rumah, acara sungkeman (sebenarnya ga ada sungkemannya sama sekali, cuma sebuah istilah untuk acara maaf-maafan sekeluarga). Acara yang selalu membuatku tidak tahan untuk mengeluarkan air mata saat mencium tangan serta berpelukan dengan bapak ibu (hiks..).

Acara dilanjutkan dengan makan ketupat dan opor ayam bareng keluarga Bulik. Beliau langsung mudik ke jogja setelah dari rumahku.Aduh sudah lama keluargaku tidak mudik bareng ke jogja. Saat Idul Fitri begini memang susah bagi keluargaku untuk mudik ke jogja, karena kami secara tidak langsung jadi tuan rumah bagi keluarga besar ibu dan juga bapak sudah seperti dituakan disini jadi banyak tamu yang berkunjung pada saat lebaran.

Lebaran taun ini keluarga besar dari ibu kumpul lagi. Walaupun gak lengkap personelnya (kemarin minus Om Slamet karena tgl 26-27 November 2006 sudah masuk kerja, dan Keluarga Mba Ani yang baru mudik seminggu setelah lebaran). Tidak ada yang berubah dengan formasi keluarga besar ini, tidak ada anggota baru dan anggota yang berkurang. Suasananya tetap ramai dan kompak. Dan seperti biasa, acara kumpul-kumpul baru terjadi pada H+2 dan H+3 karena hampir semua sholat Ied di rumah masing-masing (di Jakarta) baru mudik setelah sholat Ied.

Friday, October 20, 2006

Telah fitrikah kita?

Karya Emha Ainun Nadjib

Telah fitrikah kita, kalau puasa belum merohanikan kehidupan kita

Telah fitrikah kita, kalau badan, harta dan kuasa dunia masih menjadi muatan utama qolbu kita

Telah fitrikah kita, kalau keberpihakan kita belum kepada orisinalitas diri dan keabadian

Telah fitrikah kita, kalau masih tumpah ruah cinta kita kepada segala yang tak terbawa ketika maut tiba

Telah fitrikah kita, kalau kepentingan dunia belum kita khatamkan, kalau untuk kehilangan yang selain Allah kita masih eman

Telah fitrikah kita, kalau kasih sayang dan ridha Allah masih belum kita temukan sebagai satu2nya hakekat kebutuhan


Ya Allah, jangan biarkan Ramadlan meninggalkan jiwa kami

Ya Allah, jangan perkenankan langkah kami menjauh dari kemuliaan berpuasa

Ya Allah, halangi kami dari nafsu melampiaskan, serta peliharalah kami dari disiplin untuk mengendalikan

Ya Allah, peliharalah Ramadlan dalam kesadaran kami,

Ramadlan sepanjang jaman

Ramadlan sejauh kehidupan

Ramadlan sampai ufuk keabadian.

Taqobalallahu minna wa minkum siyamana wasiyamakum
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H

Tuesday, October 10, 2006

GURU YA??

"Mbak Guru ya?" sudah beberapa orang menanyakan hal seperti itu padaku.Bahkan saat aku membeli baju kerja pun pemilik tokonya menanyakan hal yang sama. Aku hanya tersenyum, menggelengkan kepala dan menjawab "bukan".
Aku kadang heran banyak orang yang menyangka aku adalah seorang guru. Orang-orang di pasar tempat Simbahku jualan juga sering bertanya, "Mbak Nia ngasto teng SD pundi?". Mungkin mereka beranggapan demikian karena bapak seorang guru, jadi sudah sepantasnya kalau anaknya pun guru. Padahal tidak semua anak guru harus menjadi guru kan??.


Kalau orang-orang disekitarku sekarang (tentunya bukan temen sekantorku) yang menyangka aku seorang guru mungkin karena penampilan sehari-hariku. Blus dan rok panjang memang jadi baju favoritku. Ini terbukti ketika aku tanya ke Baskoro kenapa dia mengira aku guru. Jawabnya "penampilanmu kayak guru". Teman yang lain bilang cara bicaraku dalam menjelaskan sesuatu mirip dengan cara yang dipakai oleh seorang guru. Apapun yang mereka katakan, aku cukup senang jika disangka sebagai seorang guru.

Jujur saja salah satu cita-citaku waktu kecil adalah menjadi seorang guru. Melihat kegigihan guru-guru dalam memberikan pengajaran pada muridnya serta tugas mulia mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa membuat Nia kecil ingin sekali meniru mereka. Malah pada saat aku kelas IV SD aku ingin sekali menjadi seorang guru Tari Klasik, karena pada saat itu aku senang menari tarian Jawa Klasik dan Bu Tati, guru tariku, seorang guru yang menyenangkan. Saat aku SMP pun aku masih ingin jadi seorang Dosen.

Sampai saat ini keinginan untuk menjadi seorang guru tetap ada dalam hatiku. Mungkin nanti aku akan menjadi guru untuk anak-anakku. Atau suatu saat nanti aku jadi seorang dosen.

Friday, September 29, 2006

Cerita Seorang Bapak

Ba'da Maghrib kemarin, setelah aku menyantap makanan buka puasaku terjadi obrolan dengan seorang bapak. Menilik dari wajahnya kira-kira beliau usia lebih tua sekitar 3 tahun dari bapakku.

"Anakku empat,dek. Yang bungsu baru masuk kuliah di Unpad. Sebelum pengumuman SPMB kemarin bapak minta dia untuk mendaftar juga di universitas swasta. Pikiran bapak kalau dia tidak ketrima SPMB masih tetap kuliah, tapi si bungsu menolak tawaran bapak. Walaupun sudah dirayu dengan berbagai cara.Toh 3 kakaknya dulu juga daftar swasta juga", kata si bapak datar.

"Dia sudah yakin kalau bisa masuk ke Unpad" lanjut sang bapak
Secercah senyum tiba-tiba menghiasi wajah bapak, "Alhamdulillah, dek. Dia bisa masuk. Aku salut dengan dia, salut atas perjuangannya, bagaimana kesungguhan dia belajar. Aku bangga,dek"

Obrolan terus berlanjut, bapak itu menceritakan anaknya satu persatu. Wajahnya tampak bahagia. Beliau bertutur tentang kelebihan-kelebihan anaknya. Semua anak kelihatan istimewa di mata si bapak.

Mendengar cerita bapak tadi anganku langsung teringat pada orang tuaku di rumah. Kadang hal yang menurutku menjadi luar biasa di mata beliau berdua. Aku teringat ketika bapak cerita kepadaku tentang Uzi yang juara pidato pas di SMP (aku juga gak nyangka padahal adekku yang satu itu pendiem). Atau cerita beliau tentang Arif,adekku yang besar, tentang kegiatan-kegitannya akhir-akhir ini.

Bagi orang tua dimanapun aku yakin setiap anak mempunyai keistimewaan di hati. Kebahagiaan orang tua bukan hanya karena anaknya memberikan nilai ekonomi lebih saja. Jauh lebih banyak kebahagiaan mereka karena keberhasilan kita di sisi yang lain.

Thursday, September 28, 2006

Tentang Konsekuensi (lagi)

Beberapa waktu yang lalu topik konsekuensi pernah dibahas dalam blog ini. Pagi tadi topik konsekuensi ini muncul lagi dalam sebuah perbincangan menuju kantor antara aku, Elly dan Mbak Ratih. Kali ini sudut pandangnya jauh berbeda dengan ceritaku yang lalu, sudut pandang seorang perempuan, sudut pandang seorang istri.

Perbincangan ini bermula dari keadaan dua temanku dalam melaksanakan puasa. Elly dan Mbak Ratih, keduanya sedang hamil muda. Dari perbincangan itu berlanjut tentang pengajuan pindah tugas yang ingin dilakukan oleh mbak Ratih. Memang dua ibu muda ini hidup terpisah dari suaminya. Bukan hidup terpisah negatif lho, tapi karena sang suami bertugas di kota yang lain. Elly bersuami seorang hakim yang bertugas di Tual, Maluku, sedangkan mbak Ratih suaminya bertugas di Semarang.

Kembali lagi ke masalah konsekuensi. Lobby temanku itu untuk pindah ke kota yang sama dengan suaminya kemungkinan besar tidak dikabulkan. Dalam institusi kami memang agak susah kalau mengajukan pindah tugas. Kalaupun permintaan itu dikabulkan pasti karena tempat yang dituju mempunyai lowongan jabatan dan kebutuhan tenaga kerja yang sama. Jadi pindah tugas tidak segampang memindahkan dua pegawai yang berada di wilayah yang berbeda. Contohnya dua temanku yang lain, Nuni dan Mbak Titin, Nuni(roommate ku pas samapta)bertugas di Bandung suaminya di Jakarta, sedangkan mbak Titin kebalikannya. Mereka ingin sekali bisa tuker tempat tapi tidak bisa karena memang spek nya berbeda. Nuni dengan latar belakang Akuntansi jobnya di bagian SKEM, mbak Titin latar belakangnya teknik industri jobnya di bagian Perizinan.

Ketika temanku itu melakukan lobby sempat terdengar sindiran dari seniornya. Hidup itu kan pilihan, tinggal pilih aja suami atau institusi. Yah lagi-lagi sebuah konsekuensi dari janji yang sudah kita sepakati "bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia". Walaupun aku tidak sepakat dengan apa yang dikatakan oleh senior temanku itu.

Hidup terpisah suami dan istri di dua kota yang berjarak jauh memang tidak mudah. Apalagi keadaan mereka yang sedang hamil. Apa-apa harus dilakukan sendiri, ke dokter sendiri, merasakan mual dan sakit sendiri. Kontak intens hanya bisa dilakukan via telepon. Aku jadi ingat salah satu mbakku tentang suami istri yang beda kota, dia bilang "kalau nanti aku selingkuh gimana?".Hehehe ada benarnya juga sih, kemungkinan itu bisa terjadi.

SMS in English version

Bang, tell me who send this short message Bang
Bang, this message with those words of "honey"
Bang, it must come from your girlfriend Abang
Bang, it has caused me feel so uneasy

Bang, please give me your answer now Abang
Bang, I will throw you mobile phone away
Bang, please tell me the truth right now Abang
Bang, if you love me anyway

When you talk in argument
You are so good with reasons
Obviously you've wrong statement
Still going with your reasons

You tell me wrong number lah
You tell me someone's joke lah
You tell me wrong number lah
You tell me someone's joke lah
Starting this very moment, your mobile phone will be mine

dari Mas Supre (ada-ada aja nih pak dosen ^-^ )

Monday, September 25, 2006

Bye Bye Keela

Minggu pagi, hari pertama puasa aku lewatkan dikost biasa acara bersih-bersih. Tiba-tiba Keela datang, dia berpamitan mau kembali ke negaranya. Keela adalah tetangga depan kostku, dia anak Malaysia. Di sini dia belajar di Martha Tilaar. Tak terasa aku berteman dengannya hampir satu setengah taun.

Awal kenal dengannya karena sering main ke kostku untuk nonton TV ataupun sekedar ngobrol dengan mbak Nik dan mbak Ayu. Orangnya sangat riang dan baik hati. Kadang sifatnya yang polos membuatnya tidak sadar sudah dimanfaatkan orang lain. Aku kagum pada orang tuanya yang berani melepaskan anak perempuannya yang masih lugu di sebuah negeri asing sendirian.

Sebenarnya di Malaysia Keela pernah kuliah Psikologi di sebuah universitas cukup ternama (aku lupa namanya). Tapi karena dia lebih suka belajar tata rias maka minta ke ortunya untuk belajar tata rias di Indonesia. Selama kursus kadang teman-temannya jadi bahan percobaan. Aku pernah di manicure, padicure dan kutex ma dia. Yang paling aku suka kalo dia mengeluarkan jurus pijat wajah, hm... kepala yang tadinya berat jadi terasa enteng dan segar.

Keela sangat akrab dengan orang-orang di sekitar kostnya. Apalagi dengan mbak Yati, penjual jus di depan kost, hampir tiap hari Keela menghabiskan waktu senggangnya disitu. Kalau masalah percakapan, jangan salah dia sudah fasih berbahasa jakarte. Gue Lu sudah jadi bahasa sehari-harinya. Bahkan jika ada pertemuan di kedutaan Malaysia dia sering kena teguran karena tidak berbahasa Melayu, tapi malah pakai bahasa Jakarte.

Sebuah impian Keela yang belum kesampaian adalah punya suami orang Indonesia. Entah mengapa dia terlihat begitu ngoyo untuk mendapatkan pacar orang Indonesia. Sehingga kadang terjadi perbedaan persepsi antara dia dengan teman-teman cowoknya.Padahal kalau dilihat dari umur dia lebih muda 4 tahun dari aku. Dia bahkan pernah merancang pernikahannya, bagaimana gaunnya nanti, pakai adat apa nikahnya, konsep resepsinya, perancang bajunya siapa, tata riasnya siapa, pokoknya detail tentang acara pernikahan impiannya sudah dibuat.

Selepas dari Indonesia Keela ingin melanjutkan pendidikannya di Thailand. Dia ingin memperdalam tentang tata rambut (kalau ga salah). Tapi sepertinya rencananya di pending karena Thailand sedang ada kudeta militer.
Keep in touch ya Keel. Doakan undanganmu untuk mampir ke rumahmu di Kuala Lumpur bisa terwujud.

Friday, September 22, 2006

Happy Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan….

Selamat datang wahai tamu yang mulia
Selamat datang wahai kekasih yang selalu di nanti
Selamat datang bulan kebahagiaan dan kemuliaan
Selamat datang wahai bulan amalan saleh
Selamat datang bulan penuh ampunan

Kami sambut engkau dengan penuh sukacita
Kami sambut engkau dengan kenangan paling indah
Kami sambut engkau dengan penuh kecintaan dan kerinduan
Semua kecintaan yang ditujukan hanya kepada ALLAH SWT


Terimalah Yaa ALLAH puasa kami....
Kemudian tambahkan kepada kami anugerahMU yang Agung
Jangan Engkau siksa kami....
Karena kami telah disiksa oleh kegundahan
Yang membuat kami terjaga sepanjang malam

Terima kasih Yaa ALLAH....
Telah Engkau pertemukan kami kembali dengan Ramadhan
Amin....

Bila ada langkah membekas lara, Bila ada kata merangkai dusta
Bila ada tingkah menoreh duka

Dengan segala kerendahan hati
Kami mohon maaf lahir dan bathin kepada teman-teman semua

Selamat menjalankan Ibadah Puasa
Semoga amal ibadah kita dapat menghapus dosa-dosa, mendapat pengampunan dan maghfirah dari ALLAH SWT.

Thursday, September 14, 2006

PR dari Ifa

Aduh… sore-sore malah dikasih PR ma Ifa tentang "7 things" . Sorry bu baru sempet buka PR nya hari ini. Kan kemarin harus cepet-cepet ngejar Kopaja 502. Pas hari ini baca PR, ck…ck.. ck… ternyata banyak banget dan harus pake pemikiran yang dalam buat menjawabnya.

7 things that scare me :
1. takut dosa
2. takut nyakitin hati ortu
3. takut terjadi hal yang buruk pada diriku
4. takut dibenci sama orang yg aku sayang
5. takut dicuekin teman
6. takut kehilangan yang sangat berharga
7. takut jadi orang yang sombong

7 random song at the moment :
1. Jagalah Hati by Snada, lagu ini jadi nada sambungku, ga percaya? Coba aja telp ke 08157******* (he he he masih jadi konsumsi orang terbatas)
2. Demi Masa by Raihan, lagu ini jadi ringtone ku
3. Cinta Sendiri by Kahitna
4. My Heart by Aca & Irwansyah
5. Yogyakarta by NuKLA
6. Hapus Aku by Nidji
7. SMS by gak tau namanya, denger-denger masih diperebutkan ya siapa penyanyinya??? Lagu ini bisa 10 kali sehari aku denger karena ibu disampingku make buat tone sms yang masuk

7 things that 1 like the most :
1. Baca buku, kata orang buku itu jendela dunia jadi berpetualang ke penjuru dunia lewat buku
2. Travelling, menikmati suasana baru di tempat-tempat yang baru dan pastinya mendapat pengalaman yang baru
3. Chatting, ngobrol dengan teman lama, dapet temen baru , bias diskusi dengan berbagai macam topic sampe curhat
4. Main musik, sekarang lagi suka mukul-mukul si saron
5. Ngutak-atik blog & blogwalking
6. Dengerin lagu melow
7. Window Shopping (tapi harus jarang dilakukan, he he he klo ga kantong bisa jebol)

7 important things in my bedroom :
1. Tempat tidur dan perangkat pendukungnya
2. Jam dinding
3. Rak Buku beserta isinya
4. Komputer dan teman-temannya
5. Lemari pakaian beserta isinya
6. TV & DVD player dan remotenya
7. HP (buat alarm, telpon & sms-an)

7 random facts about me :
1. Pendiem
2. Susah ditebak
3. Agak tinggi (162 lumayan lah..)
4. Kurang berbobot (kurus maksudnya, he he he)
5. Mandiri
6. Care
7. Suka banget ma anak kecil

7 things i said the most :
1. Assalamu’alaikum
2. Makasih
3. he he he
4. Aku
5. Kamu
6. Yups
7. OK

7 things i plan to do before i die :
1. Mewujudkan sebuah impian bareng adek untuk ortu tercinta (rahasia…, ga perlu dijelasin)
2. Menyempurnakan separuh dari Din 
3. Punya anak dan jadi ibu yang cerdas
4. Kuliah & kuliah lagi
5. Punya perpustakaan kecil
6. Keliling Indonesia
7. Belajar main beberapa alat musik

Lapor Fa, PR nya dah aku bikin. Klo ada yang kurang ya maaf cuma bisa ngisi yang ini.

Tuesday, September 12, 2006

Hari Baru

Mulai kemarin aku menikmati kehidupan baru. Begitu bel pulang berbunyi langsung keluar kantor. Menikmati desak-desakan di kopaja 502, sebuah kenikmatan yang sekarang jarang sekali aku temui semenjak kost. Bertemu dengan orang-orang yang belum dikenal.Pulang ke kost saat jam ditangan menunjukan lebih dari pukul 20.00(mungkin hari-hari mendatang lebih dari pukul 21.00)dengan bus 916. Tersirat tanya dalam hati, mampukah nia melakukan ini?
BISMILLAH...
Kuucapkan dengan sepenuh hati. Semoga Allah meridhoi langkahku ini.

Sempat Arif mengusulkan aku memakai sepeda motor saja untuk transportasi ke tempat aktivitasku yang baru. Ah adeku sayang... mbakyumu belum punya nyali untuk melintasi jalanan ibukota sendiri, lagipula aku belum hapal semua jalan yang harus aku lalui :).

Terimakasih untuk seorang teman di seberang pulau sana. Dari jauh sempat menanyakan hari pertamaku melewati aktivitasku yang baru. Terimakasih juga atas semua nasehatnya. Mudah-mudahan kita dapat terus saling mengingatkan.

Friday, September 08, 2006

Foto

Ehm... lagi iseng bikin slide beberapa fotoku. Foto ini diambil di Medan, Bandung, Tanjung Lesung & kantor.

Friday, September 01, 2006

Esok = ?

(baca : Esok adalah tanda tanya)



Aku bukan sedang pragmatis
Bukan juga sedang apatis
Yang aku rasa esok = ?

Pernah kau lihat pohon kelapa?
Tidak semua yang jatuh kelapa tua yang kering
Kadang buah kelapa muda
Kadang juga bakal buahnya
Bahkan kadang bunga manggarnya

Esok = ?
Pernahkah kau tau apa yang akan terjadi denganmu
setahun...
sebulan...
seminggu..
sehari....
sejam.....
semenit...
bahkan sedetik yang akan datang??

Aku dengar darimu tentang bagaimana esok
Jadi apa kau bulan depan
Punya apa kau nanti
Bukan, bukan itu sayangku...
Itu bukan keniscayaan
Itu hanya impian
Itu cuma rencana

Dan tetaplah esok =?
Wahai Penguasa Hari Esok
Engkaulah yang maha mengetahui apa yang akan terjadi
Aku berserah diri terhadap apa yang akan terjadi esok

kututup hari ini dengan lantunan do'a
Bismika Allahumma ahya wa bismika amutu


Friday, August 25, 2006

M U N D U R

Kemarin aku mengantar seorang teman untuk melihat biodata seseorang. Beberapa waktu yang lalu temanku ditelpon si Teteh tentang seseorang yang sudah melihat biodatanya. Sengaja hari itu kami keluar kantor tepat waktu agar tidak kemalaman di jalan. Perasaan dag dig dug sudah merasuki hati temanku. Terselip juga perasaan senang seraya berdo'a dalam hati, mudah-mudahan ini jawaban dari Allah. Setelah ketemu si Teteh mau tau apa jawabannya? "Mba, seiring jalannya waktu orang itu mundur". Ya benar, mundur jawabannya. Kulihat semburat kesedihan menghiasi wajah temanku.

Tentang MUNDUR ada kisah dari teman lain yang lebih menyedihkan. Calon suaminya tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka yang kurang 2 bulan lagi. Saat mereka sudah sibuk mempersiapkan pernikahan. Sudah memesan gedung untuk pernikahan, saat souvenir sudah ditentukan. Dan rencana pernikahan mereka pun kandas. Calon mempelai pria memilih mundur tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Akhirnya hubungan mereka pun berakhir.

Dan sebuah pernyataan mundur pun pernah masuk dalam inbox Hp ku, Aku bagai pungguk merindukan bulan katanya. Aku ga tau siapa yang sebagai pungguk dan siapa yang jadi bulannya :).

Ah... Aku ga tau apa yang ada di benak orang yang melihat biodata temanku, calon suami (yang batal) temenku, atau pengirim sms itu saat mereka memutuskan untuk mundur. Mungkin mereka tidak sanggup menghadapi konsekuensi jika memilih maju terus. Mungkin juga ada berpuluh, beratus atau bahkan beribu alasan yang aku tidak tau. Toh mundur juga sebuah pilihan, mundur juga pasti sebuah keputusan.

Sudahlah tidak perlu berpusing diri dengan memikirkan orang-orang yang memilih mundur. Dunia tidak akan berhenti karena keputusan mereka, kehidupan pun masih berjalan.

Aku salut dengan dua temanku itu. Mereka tidak terpuruk dengan keadaan itu. Walau mungkin jika tidak ada kata mundur mereka akan menemukan kehidupan yang sudah lama mereka impikan. Mereka tegar dan cepat bangkit merajut hari yang baru. Satu keyakinan ada dalam hati mereka, orang-orang yang mundur bukanlah yang terbaik buat mereka. Allah sedang mempersiapkan orang yang ksatria, orang yang terbaik bagi mereka. Semoga tidak akan lama....

Tuesday, August 15, 2006

Sebuah Konsekuensi

Tak terasa sudah 3 bulan berlalu, temanku di tugaskan di seberang sana. Masih terlintas jelas di benakku peristiwa tanggal 15 Mei yang lalu. Ya... 15 Mei adalah hari penentuan bagi mereka. Di hari itu ada pengumuman penempatan untuk teman-temanku. Dua orang temanku masih tetap di Jakarta, satu orang kembali ke Solo (selamat..pulang ke kampuang halaman, kumpul lagi dengan orang tua),dan seorang teman lagi ditempatkan di seberang pulau sana.

Aku masih ingat juga betapa shock-nya dia mendengar penempatan itu. Batam, sebuah kota yang tidak pernah terlintas di benaknya ternyata harus menjadi tempatnya mengadu nasib. Dari pembacaan pengumuman sampai malam hari kulihat sendu dan murung menghiasi wajahnya. Sempat sebentar aku menghiburnya, selebihnya kesendirian mungkin lebih baik baginya. Dalam kesendirian itu dia bisa berfikir dengan jernih, dan mencoba merangkai sebuah harapan. Harapan memasuki dunia yang baru, dunia yang belum pernah terjamah di pikirannya.

Pagi hari senyum sudah mengembang di bibirnya. "Yah... ini sebuah konsekuensi perjanjian yang pernah aku tanda tangani. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Toh Indonesia bukan cuma Jawa" jawabnya dengan ceria. Alhamdulillah... gumamku dalam hati.

Tiga bulan sudah berlalu. Konsekuensi itu kembali mengujinya. Kabar dari rumah membuat hatinya miris. Orang tua yang sangat dikasihinya sudah rapuh kondisinya. Bolak-balik beliau dirawat di rumah sakit. Dari beberapa kali komunikasi dengannya kutahu dia sangat ingin kembali di Jakarta. Akhirnya kita coba menembus beberapa jaringan untuk memenuhi keinginannya. Dan ketika hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan pasrah mungkin yang akan dijalankan. Setidaknya kita sudah benar-benar berusaha.

Ah teman..
Hidup adalah pilihan
Dan setiap pilihan ada konsekuensinya

Thursday, August 10, 2006

Tempayan Retak

Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.

Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya,karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"

"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita.

Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?

Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya.
Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga- bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.

Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

dari sebuah milist

Monday, August 07, 2006

W E E K E N D

Ketika hari Jum'at tiba beberapa orang menanyakan kepadaku:
"Kemana nih weekend?"
"Biasanya weekend ngapain?"
dan pertanyaan senada yang lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatku mereview kembali kegiatan-kegiatan yang aku kerjakan saat weekend tiba.

1. Olahraga
Tempat olahraga saat weekend yang asyik adalah Monas. Biasanya aku bareng teman-teman kost olahraga di sana. Hari Sabtu dan Minggu banyak orang yang lari pagi, joging, senam dan olahraga lainnya. Hari minggu kemarin aku dapat rutinitas baru di Monas. Aku dan Nana ikut senam bareng di sudut selatan Monas. Lumayan menghasilkan banyak keringat. Kalau lari kan hanya otot kaki yang berolahraga, nah dengan senam semua tubuh kita ikut bugar.

2. Bersihin rumah
Nah kalau yang ini kegiatan rutin yang harus dilakukan. Namanya juga anak kost, jadi harus tanggung jawab sama lingkungannya sendiri. Hari-hari yang lainnya kan bersihin ruangan tidak sampai detail. Jadi weekend acara bersih-bersihnya lebih dioptimalkan.

3. Berkunjung ke rumah saudara
Kadang kangen sama suasana rumah, kegiatan ini bisa mengobati perasaan itu. Rumah yang aku kunjungi itu rumah Budhe, Bulik dan Arif(my big bro). Ketemu Shafa, ponakanku yang lucu dan menggemaskan itu, main dengan adek-adek kecilku : Imam, Iyus, Raihan, Fauzan dan Dinda jadi kegiatan yang menyenangkan. Kadang juga diisi diskusi dengan keluarga besar mereka yang menambah wawasanku. Apalagi tinggal di sebuah kota besar yang kadang tidak bersahabat, bisa menjaga tali silaturahim dengan kerabat dekat sangat dibutuhkan.
Dari ketiga rumah itu yang paling sering aku datangi adalah rumah Arif, karena secara personal memang kita sangat dekat. Kadang gantian dia yang main ke tempatku. Ngobrol di warung mas WT berjam-jam merencanakan masa depan. Jalan-jalan ke ITC atau Jakarta Fair

4. Jalan-jalan
Biasanya sih jalan-jalan saat weekend sekalian sama beli kebutuhan sehari-hari. Tempat jalan-jalannya Harmoni, Blok M, kadang juga ke tanah abang. Tapi kadang juga jalan ke pameran-pameran buku atau kerajinan rakyat.
Satu keinginanku yang belum terwujud adalah jalan-jalan ke musium yang ada di Jakarta.

5. Baca Buku
Kapan lagi baca buku bebas berjam-jam kalau bukan hari Sabtu Minggu. Hari-hari biasa paling hanya empat atau lima halaman saja.

6. Ikut kajian
Bersama Mba Yanti & Iye, biasanya weekend dilewatkan dengan ikut kajian. Tempatnya ga mesti sama. Yang paling sering di Masjid Istiqlal, Al Azhar dan di daerah Cipaku.

Kegiatan-kegiatan semua itu mungkin terakhir aku nikmati dengan bebas bulan ini. Bulan depan sudah berubah lagi, ada kegiatan yang mudah-mudahan lebih menyenangkan yang harus jadi rutinitasku.